Senin, 20 April 2009

Karir, Kerja, dan Waktu Luang Pada Masa Dewasa Madya

A. Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja adalah sikap umum terhadap pekerjaan seseorang yang menunjukan perbedaan antara jumlah penghargaan yang diterima pekerja dan jumlah yang mereka yakini seharusnya mereka terima (Robbin, 2003:78).

Greenberg dan Baron (2003:148) mendeskripsikan kepuasan kerja sebagai sikap positif atau negatif yang dilakukan individu terhadap pekerjaan mereka. Selain itu Gibson (2000:106) menyatakan kepuasan kerja sebagai sikap yang dimiliki para pekerja tentang pekerjaan mereka. Hal itu merupakan hasil dari persepsi mereka tentang pekerjaan.

Kepuasan kerja meningkat secara stabil sepanjang kehidupan kerja dari usia 20 sampai setidaknya 60 tahun. Terdapat komitmen yang lebih besar terhadap pekerjaan seiring dengan bertambahnya usia kita, kita bekerja dengan lebih serius, tingkat kehadiran yang dapat dihindarkan semakin sedikit, lebih banyak mencurahkan diri pada pekerjaan. Orang dewasa yang lebih muda (dewasa awal) masih mengadakan percobaan dengan kerja mereka, masih mencari jabatan yang tepat, sehingga mereka mungkin cenderung mencari-cari apa yang salah dengan pekerjaan mereka yang sekarang daripada memperhatikan pada apa yang tepat tentang hal itu (Rhodes, 1983).

Ada lima factor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja (Kreittner & Kinicki:225) yaitu:

1. Pemenuhan Kebutuhan

Kepuasan ditentukan oleh tingkatan karakteristik pekerjaan memberikan kesempatan pada individu untuk memenuhi kebutuhannya.

2. Perbedaan (Discrepancies)

Kepuasan merupakan suatu hasil memenuhi harapan. Pemenuhan harapan mencerminkan perbedaan antara apa yang diharapkan dan apa yang diperoleh individu dari pekerjaannya. Bila harapan lebih besar dari apa yang diterima, orang akan tidak puas. Sebaliknya individu akan puas bila menerima manfaat di atas harapan.

3. Pencapaian Nilai (Value Attainment)

Kepuasan merupakan hasil dari persepsi pekerjaan memberikan pemenuhan nilai kerja individual yang penting.

4. Keadilan (Equity)

Kepuasan merupakan fungsi dari seberapa adil individu diperlakukan di tempat kerja.

5. Komponen Genetik (Genetic Components)

Kepuasan kerja merupakan fungsi sifat pribadi dan faktor genetic. Hal ini menyiratkan perbedaan sifat individu mempunyai arti penting untuk menjelaskan kepuasan kerja di samping karakteristik lingkungan kerja.

Selain penyebab kepuasan kerja, ada juga faktor penentu kepuasan kerja, yaitu :

1. Gaji/Upah

Menurut Theriault, kepuasan kerja merupakan fungsi dari jumlah absolute dari gaji yang diterima, derajat sejauh mana gaji memenuhi harapan-harapan tenaga kerja dan bagaimana gaji diberikan. Selain untuk pemenuhan kebutuhan dasar, uang juga merupakan simbol dari pencapaian, keberhasilan dan pengakuan/penghargaan.

Berdasarkan teori keadilan Adams, orang yang menerima gaji yang dipersepsikan terlalu kecil atau terlalu besar akan mengalami ketidakpuasan. Jika gaji dipersepsikan adil berdasarkan tuntutan-tuntutan pekerjaan, tingkat ketermpilan individu dan standar gaji yang berlaku untuk kelompok pekerjaan tertentu maka akan ada kepuasan kerja.

Jika dianggap gaji terlalu rendah, pekerja akan merasa tidak puas. Tapi jika gaji dirasakan terlalu tinggi, pekerja tidak lagi tidak puas, artinya tidak ada dampak pada motivasi kerjanya. Gaji atau imbalan akan mempunyai dampak terhadap terhadap motivasi kerja seseorang jika besarnya imbalan disesuaikan dengan tinggi prestasi kerjanya.

2. Kondisi Kerja

Bekerja dalam ruangan atau tempat kerja yang tidak menyenangkan akan menurunkan semangat untuk bekerja. Oleh karena itu perusahaan harus membuat kondisi kerja yang nyaman dan menyenangkan sehingga kebutuhan-kebutuhan fisik terpenuhi dan menimbulkan kepuasan kerja.

3. Hubungan Kerja

v Hubungan dengan Rekan Kerja

Ada tenaga kerja yang dalam menjalankan pekerjaannya memperoleh masukan dari tenaga kerja lain. Hubungan antara pekerja adalah hubungan ketergantungan sepihak yang berbentuk fungsional.

Kepuasan kerja yang ada timbul karena mereka dalam jumlah tertentu berada dalam satu ruangan kerja sehingga dapat berkomunikasi. Dalam kelompok kerja di mana para pekerjanya harus bekerja sebagai satu tim, kepuasan kerja mereka dapat timbul karena kebutuhan-kebutuhan tingkat tinggi mereka seperti harga diri, aktualisasi diri dapat dipenuhi dan mempunyai dampak pada motovasi kerja mereka.

v Hubungan dengan Atasan

Kepemimpinan yang konsisten berkaitan dengan kepuasan kerja adalah tenggang rasa. Hubungan fungsional mencerminkan sejauh mana atasan membantu tenaga kerja untuk memuaskan nilai-nilai pekerjaan yang penting bagi tenaga kerja. Hubungan keseluruhan didasarkan pada keterkaitan antara pribadi yang mencerminkan sikap dasar dan nilai-nilai yang serupa, misalnya keduanya mempunyai pandangan hidup yang sama.

Tingkat kepuasan kerja yang paling besar dengan atasan adalah jika kedua jenis hubungan adalah positif. Atasan yang memiliki ciri pemimpin yang transformasional, maka tenaga kerja akan meningkat motivasinya dan sekaligus merasa puas dengan pekerjaannya.

B. Jenjang Karir

Tidak semua jabatan memiliki langkah-langkah yang jelas, tetapi sebagian besar pekerjaan memiliki hirarki di mana pekerja tingkat rendah dan pekerja tingkat tinggi dibedakan dengan jelas.

C. Perubahan Karir pada Paruh Kehidupan

Pengalaman perubahan karir di paruh kehidupan digambarkan sebagai titik perubahan di masa dewasa oleh Daniel Levinson (1978). Satu aspek dari periode paruh kehidupan melibatkan penyesuaian harapan yang ideal pada kemungkinan realistik dipandang dari berapa waktu yang tersisa di sebuah jabatan. Orang tengah baya mungkin memfokuskan pada berapa banyak waktu yang tersisa sebelum pensiun dan kecepatan mereka mencapai tujuan pekerjaan mereka ( Pines & Aronson, 1988).

D. Jalur Kerja Laki-Laki dan Perempuan

Sebagian besar laki-laki mulai bekerja di masa dewasa awal, dan bekerja lebih atau kurang berkesinambungan sampai mereka pensiun, kecuali mereka kembali ke sekolah atau menjadi tidak bekerja. Pola yang tidak stabil dari kerja biasanya lebih umum di antara pekerja dengan pendapatan rendah daripada pekerja dengan pendapatan menengah.

Jalur yang paling umum untuk perempuan adalah bekerja sebentar setelah menyelesaikan sekolah atau bahkan kuliah, menikah, dan mempunyai anak, kemudian ketika anak-anak bertambah besar, kembali bekerja paruh waktu untuk membantu pendapatan suami. Seiring dengan anak-anak mulai meninggalkan rumah, perempuan kembali ke sekolah untuk memperbaharui beberapa keterampilan sebelumnya atau program pelatihan kembali sehingga dia dapat mengambil pekerjaan penuh di usia 40 dan 50 tahun, ketika dia relatif bebas dari tanggung jawab.

Wanita karir lebih menekankan perihal mempertahankan keterampilan profesionalnya. Empat pola karir di antara wanita karir telah didefinisikan (Golan,1986) :

1. Teratur (Regular)

Perempuan yang melanjutkan pelatihan profesionalnya segera setelah tamat sekolah, yang mulai bekerja dan melanjutkan tanpa gangguan, atau gangguan minimal di sepanjang tahun itu.

2. Karir yang Terganggu (Interrupted career)

Perempuan yang mulai seperti dalam pola teratur tetapi mengganggu karirnya untuk beberapa tahun – biasanya untuk membesarkan anak – dan kemudian kembali bekerja dengan waktu penuh.

3. Karir Kedua (Second Career)

Perempuan yang memulai pelatihan profesionalnya setelah waktu anak-anak meninggalkan rumah atau setelah perceraian.

4. Karir Kedua yang Dimodifikasikan (Modified Second Career)

Perempuan yang memulai pelatihan profesionalnya ketika anak-anak masih di rumah, tetapi telah cukup besar sehingga tidak memerlukan waktu penuh pengasuhan, kemudian mulai bekerja, kemungkinan paruh waktu, sampai anak terakhit meninggalkan rumah atau menjadi mandiri, saat itulah ia mengganti dengan karir yang penuh.

Banyak perempuan tengah baya memasuki angkatan kerja karena mereka dihadapkan pada kebutuhan untuk membantu diri mereka sendiri dan keluarga mereka. Namun kebosanan, kesepian, dan keinginan untuk minat yang baru mungkit terlibat juga.

Para peneliti mempelajari perempuan pada paruh kehidupan telah menemukan bahwa pekerjaan memainkan peran penting dalam banyak kesehatan psikologis perempuan (Baruch & Barnett, 1987). Dalam sebuah penelitian, pada perempuan tengah baya pendapatan yang lebih tinggi berkaitan dengan kepuasan hidup, dan terlalu banyak bekerja dihubungkan dengan ketidakbahagiaan (Crohan dkk., 1989).

E. Waktu Luang

Sebagai orang dewasa, tidak hanya harus belajar bagaimana bekerja dengan baik, tetapi kita juga perlu belajar bagaimana untuk bersenang-senang dan menikmati waktu luang. Aristoteles mengenali pentingnya waktu luang dalam kehidupan, bahkan menekankan bahwa kita seharusnya tidak hanya bekerja dengan baik, tetapi menggunakan waktu luang dengan baik. Ia pun menggambarkan waktu luang sebagai hal yang lebih baik, karena hal ini adalah akhir dari kerja.

Waktu luang (leisure) merujuk pada waktu yang menyenangkan setelah bekerja ketika individu bebas untuk mengikuti aktivitas dan keinginan yang mereka pilih sendiri. Salah satu tema pokok penelitian pada waktu luang adalah meningkatnya ketergantungan pada televisi melebihi bentuk lain dari media massa sebagai sebuah bentuk hiburan. Olah raga juga bagian yang integral dari aktivitas-aktivitas waktu luang nasional, baik melalui keterlibatan langsung atau sebagai penonton. Beberapa ahli perkembangan percaya bahwa masa dewasa tengah adalah waktu dari pertanyaan bagaimana waktu seharusnya dihabiskan dan menetapkan prioritas (Gould,1978).

Waktu luang mungkin merupakan aspek penting yang khusus dari masa dewasa tengah, karena perubahan pengalaman beberapa individu pada titik ini berada dalam lingkaran kehidupan orang dewasa. Perubahan meliputi perubahan fisik, perubahan hubungan dengan pasangan dan anak-anak, dan perubahan karir. Bagi banyak individu, masa dewasa tengah adalah saat pertama kali dalam hidup ketika mereka memiliki kesempatan mengembangkan minat mereka.

Orang dewasa pada paruh kehidupan perlu mulai menyiapkan masa pensiun baik secara keuangan maupun psikologis. Membangun dan memenuhi aktivitas-aktivitas waktu luang pada masa dewasa tengah adalah bagian yang penting dari persiapan ini. Jika seorang dewasa mengembangkan aktivitas-aktivitas waktu luang yang dapat dilanjutkan sampai pensiun, peralihan dari kerja ke pensiun mungkin tidak terlalu menyebabkan stress.

KARAKTERISTIK PEKERJAAN DAN KEPUASAN KERJA

Sukses tidaknya suatu organisasi sangat tergantung dari kualitas sumber daya manusia yang dimiliki karena sumber daya manusia yang berkualitas adalah sumber daya manusia yang mampu berprestasi maksimal. Kepuasan kerja mempunyai peranan penting terhadap prestasi kerja karyawan, ketika seorang karyawan merasakan kepuasan dalam bekerja maka seorang karyawan akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk menyelesaikan tugasnya, yang akhirnya akan menghasilkan kinerja dan pencapaian yang baik bagi perusahaan.

Kepuasan kerja mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap produktivitas organisasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketidakpuasan merupakan titik awal dari masalah-masalah yang muncul dalam organisasi seperti kemangkiran, konflik manager-pekerja dan perputaran karyawan. Dari sisi pekerja, ketidakpuasan dapat menyebabkan menurunnya motivasi, menurunnya moril kerja, dan menurunnya tampilan kerja baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif.

Kepuasan dapat dirumuskan sebagai respon umum pekerja berupa perilaku yang ditampilkan oleh karyawan sebagai hasil persepsi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Seorang pekerja yang masuk dan bergabung dalam suatu organisasi mempunyai seperangkat keinginan, kebutuhan, hasrat dan pengalaman masa lalu yang menyatu dan membentuk suatu harapan yang diharapkan dapat dipenuhi di tempatnya bekerja. Kepuasan kerja ini akan didapat apabila ada kesesuaian antara harapan pekerja dan kenyataan yang didapatkan ditempat bekerja. Persepsi pekerja mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya dan kepuasan kerja melibatkan rasa aman, rasa adil, rasa menikmati, rasa bergairah, status dan kebanggaan. Dalam persepsi ini juga dilibatkan situasi kerja pekerja yang bersangkutan yang meliputi interaksi kerja, kondisi kerja, pengakuan, hubungan dengan atasan, dan kesempatan promosi. Selain itu di dalam persepsi ini juga tercakup kesesuaian antara kemampuan dan keinginan pekerja dengan kondisi organisasi tempat bekerja yang meliputi jenis pekerjaan, minat, bakat, penghasilan dan insentif.

Menurut Locke dalam Munandar (2001:350) tenaga kerja yang puas dengan pekerjaannya merasa senang dengan pekerjaannya. Keyakinan bahwa karyawan yang terpuaskan akan lebih produktif daripada karyawan yang tak terpuaskan merupakan suatu ajaran dasar diantara para manajer selama bertahun-tahun (Robbins, 2001:26).

Menurut Strauss dan Sayles dalam Handoko (2001:196) kepuasan kerja juga penting untuk aktualisasi, karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja tidak akan pernah mencapai kematangan psikologis, dan pada gilirannya akan menjadi frustasi. Karyawan yang seperti ini akan sering melamun, mempunyai semangat kerja yang rendah, cepat lelah dan bosan, emosi tidak stabil, sering absen dan melakukan kesibukan yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan yang harus dilakukan. Sedangkan karyawan yang mendapatkan kepuasan kerja biasanya mempunyai catatan kehadiran dan perputaran kerja yang lebih baik, kurang aktif dalam kegiatan serikat karyawan, dan kadang-kadang berprestasi bekerja lebih baik daripada karyawan yang tidak memperoleh kepuasan kerja. Oleh karena itu kepuasan kerja mempunyai arti penting baik bagi karyawan maupun perusahaan, terutama karena menciptakan keadaan positif di dalam lingkungan kerja perusahaan.

Kepuasan kerja merupakan hasil keseluruhan dari derajat rasa suka atau tidak sukanya tenaga kerja terhadap berbagai aspek dari pekerjaannya. Dengan kata lain kepuasan mencerminkan sikap tenaga kerja terhadap pekerjaannya. Kepuasan kerja dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu karakteristik pekerjaan, gaji, penyeliaan, rekan-rekan sejawat yang menunjang dan kondisi kerja yang menunjang. (Munandar, 2001:357).

Peningkatan kepuasan kerja karyawan pada suatu organisasi tidak bisa dilepaskan dari peranan pemimpin dalam organisasi tersebut, kepemimpinan merupakan kunci utama dalam manajemen yang memainkan peran penting dan strategis dalam kelangsungan hidup suatu perusahaan, pemimpin merupakan pencetus tujuan, merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan dan mengendalikan seluruh sumber daya yang dimiliki sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya (Handoko, 2001 : 291). Oleh sebab itu pemimpin suatu organisasi perusahaan dituntut untuk selalu mampu menciptakan kondisi yang mampu memuaskan karyawan dalam bekerja sehingga diperoleh karyawan yang tidak hanya mampu bekerja akan tetapi juga bersedia bekerja kearah pencapaian tujuan perusahaan. Mengingat perusahaan merupakan organisasi bisnis yang terdiri dari orang-orang, maka pimpinan seharusnya dapat menyelaraskan antara kebutuhan-kebutuhan individu dengan kebutuhan organisasi yang dilandasi oleh hubungan manusiawi (Robbins, 2001:18). Sejalan dengan itu diharapkan seorang pimpinan mampu memotivasi dan menciptakan kondisi sosial yang menguntungkan setiap karyawan sehingga tercapai kepuasan kerja karyawan yang berimplikasi pada meningkatnya produktivitas kerja karyawan.

Karakteristik pekerjaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja karyawan, model karakteristik pekerjaan (job characteristics models) dari Hackman dan Oldham (1980) adalah suatu pendekatan terhadap pemerkayaan jabatan (job enrichment) yang dispesifikasikan kedalam 5 dimensi karakteristik inti yaitu keragaman ketrampilan (skill variety), Jati diri dari tugas (task identity), signifikansi tugas (task significance), otonomi (autonomy) dan umpan balik (feed back). Setiap dimensi inti dari pekerjaan mencakup aspek besar materi pekerjaan yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang, semakin besarnya keragaman aktivitas pekerjaan yang dilakukan maka seseorang akan merasa pekerjaannya semakin berarti. Apabila seseorang melakukan pekerjaan yang sama, sederhana, dan berulang-ulang maka akan menyebabkan rasa kejenuhan atau kebosanan. Dengan memberi kebebasan pada karyawan dalam menangani tugas-tugasnya akan membuat seorang karyawan mampu menunjukkan inisiatif dan upaya mereka sendiri dalam menyelesaikan pekerjaan, dengan demikian desain kerja yang berbasis ekonomi ini merupakan fungsi dan faktor pribadi. Kelima karakteristik kerja ini akan mempengaruhi tiga keadaan psikologis yang penting bagi karyawan, yaitu mengalami makna kerja, memikul tanggung jawab akan hasil kerja, dan pengetahuan akan hasil kerja. Akhirnya, ketiga kondisi psikologis ini akan mempengaruhi motivasi kerja secara internal, kualitas kinerja, kepuasan kerja dan ketidakhadiran dan perputaran karyawan.

Karakteristik pekerjaan seorang karyawan jelas terlihat desain pekerjaan seorang karyawan. Desain pekerjaan menentukan bagaimana pekerjaan dilakukan oleh karena itu sangat mempengaruhi perasaan karyawan terhadap sebuah pekerjaan, seberapa pengambilan keputusan yang dibuat oleh karyawan kepada pekerjaannya, dan seberapa banyak tugas yang harus dirampungkan oleh karyawan.

Rendahnya kepuasan kerja dapat menimbulkan berbagai dampak negatif seperti mangkir kerja, mogok kerja, kerja lamban, pindah kerja dan kerusakan yang disengaja. Karyawan yang tingkat kepuasannya tinggi akan rendah tingkat kemangkirannya dan demikian sebaliknya, organisasi-organisasi dengan karyawan yang lebih terpuaskan cenderung lebih efektif dari pada organisai-organisasi dengan karyawan yang tak terpuaskan sehingga dapat meningkatkan produktivitas organisasi dan salah satu penyebab timbulnya keinginan pindah kerja adalah kepuasan pada tempat kerja sekarang. (Robbins 2001).

Sabtu, 11 April 2009

50 hal paling romantis buat cowok/cewek lu orang

50 hal paling romantis buat cowok/cewek lu orang
harus fw email ini ke 5 orang dalam 5 menit yang akan datang ato lu bakal ketiban sial selama 5 taon! Makanya kirim....
Kalo lu kirim ke :
5 orang- lu bakal ketemu ama orang yang lu demen
10 orang- orang yang lu demen bakalan ngajak lu jalan2
15 orang- lu bakal jadian ama orang itu dalam jangka waktu yang panjang
20 orang- lu bakal merit ama tuh orang!

50 hal paling romantis buat cewek/cowok lu orang:
1. Mandangin matahari terbenam bareng
2. Saling berbisik
3. Masak buat doi
4. Jalan pas hujan
5. Pegangan tangan
6. Beliin kado/hadiah buat doi
7. Mawar
8. Cari cologne/parfum/wangi2an yang doi demen en pake tiap kali bareng doi
9. Jalan bareng di pantai tengah malem (jangan lupa bw jeket or sweater..ntar masuk angin)
10. Tulisin puisi buat doi
11. Pelu kan tuh obat yang umum buat doi
12. Bilang I love You, ngomongnya hanya pas lu emank bener lagi ngerasain hal itu en pastiin doi tau lu bener2 demen ama die
13. Kasih doi kado yang beda misalnya bunga/permen/puisi de el el (ih, boros amat ya..)
14. Ngomong ke doi bilang dia tuh satu2nya orang yang lu mau. Jangan bo'ong!
15. Habiskan tiap detik bareng2 doi
16. Pandangin mata doi
17. Pas remang2 angkat dagu doi, pandangin mata doi, bilang ke doi lu sayang ama die. En---kiss doi
18. Pas lagi rame, saling gandengan
19. Selipin pesan yang nyatain lu sayang ama die pas dia gak tau
20. Beliin doi cincin (nyang ini tidak dianjurkan jika tidak seriuss!!!)
21. Nyanyi bareng doi
22. Selalu pegang doi di sekitar pinggang
23. Bawa doi pegi makan bareng en makan malem bedua
24. Spaghetti? (pernah liat cewek dengan petualangan?)
25. Pegang tangan doi, tatap mata doi, kiss tangan doi en simpen di ati lu
26. Dansa bareng doi
27. Gue demen pas doi sedang tidur yang keliatan tanpa dosa di pangkuan gue
28. Lakukan hal yang manis misalnya tulis I love you di kertas sampe doi bakal ngeliat cermin buat baca tulisan itu
29. Minta ijin buat nelpon doi tiap 5 menit
30. Pas lu lagi sibuk bikin sesuatu, tinggalin buat hubungi doi en ngomong gua sayang ama lu
31. Hubungi doi dari tempat kerja lu buat ngomong lu lagi mikirin doi
32. Inget apa yang jadi cita2 lu en kasi tau doi ttg cita2 lu itu
33. Dengerin apa yang doi bilang en dukung doi
34. Bilang ke doi rahasia/masalah yang lu adepin
35. Kasih kesan yang baek ke ortu doi
36. Sisirin rambut doi dari wajah doi
37. Menggantungkan diri ke temen2 doi
38. Ke gereja/berharap/sembayang bareng doi
39. Bawa doi pegi nonton film yang romantis en inget bagian film yang doi demen
40. Saling mempelajari en jangan buat kesalahan yang sama 2 kali
41. Buat kegembiraan yang lu rasain pas waktu lu cuma bedua
42. Saling mau berkorban
43. Bener-bener saling menyayangi, ato gak usah tetep bareng lagi
44. Enggak pernah ngelupain doi sedetik pun selama hari memberi, en pastiin doi tau hal itu
45. Sayangi diri sendiri dulu sebelom sayangi orang laen
46. Pelari bahasa laen buat ngomong hal yang manis
47. Kirimin lagu dari radio buat doi
48. Telpon bareng doi sampe tidur
49. Belain doi pas ada seseorang ngomong kasar ke doi
50. Gak pernah lupain ciuman selamat malem. En gak pernah lupa ngomong "mimpi indah" ke doi Ini adalah surat berantai.

Surat ini mula2 dibuat di Guyana sekitar 1800. Surat ini sudah dikutuk oleh penduduk pribumi/asli yang merupakan tukang sihir/ dukun. Surat ini harus dikirim ke 10 orang dalam 1 jam yang akan datang atau terima akhibat yang mengerikan. Kirim saja surat ini ke teman2 kalian dan kamu akan diberkahi dengan kemampuan untuk selalu berkata yang jujur ke cewek/cowok kalian dan kalian akan selalu berhubungan baik, karna kalian bakal punya naluri yang kuat buat tau apa yang harus kalian lakukan JANGAN BUANG SURAT INI! Kalo kalian membuangnya, maka kutukan akan menghampiri kalian SELAMAT BERJUANG!!!!!